Tulisan 40 Menit Di Malam Senin

        Tepat pukul 12.34 malam aku membuka layar laptop ini. Entahlah, aku akhir-akhir ini merasa pola tidurku semakin berantakan. Awalnya memang aku biasa tidur jam 10 malam atau paling mentok jam 11 malam aku sudah tidur mode otomatis alias ngantuk dengan sendirinya. Tapi, sekarang bahkan aku jam 12.37 malam masih mengetik tulisan ini dengan lancarnya tanpa ada rasa kantuk yang menghampiriku

         Bicara soal jam tidur, aku ingat betul dulu waktu semester 1 dan 2 kuliah aku tidur jam 9 malam tepat, paling malam bahkan jam 10. Di dalam benakku, terbesit impian untuk memiliki kebiasaan seperti itu lagi. Rasanya hari-hariku berjalan sangat produktif. Tidur awal tidak hanya berdampak saat bangun tidurnya saja yang terasa lebih segar, tapi berdampak juga pada schedule dan mood tubuh untuk bisa disiplin dalam melakukan segala aktivitas

        Saat ini bulan Ramadhan, sudah semestinya aku tidur jam segini supaya aku bisa bangun sahur. Tapi, aku tidak terlalu risau akan hal terlambat bangun sahur atau bahkan tidak sahur sama sekali saat ini. Karena aku sedang berada di rumah, yang mana suara ibuku bahkan lebih ampuh untuk membangunkanku daripada suara alarmku yang tidak kalah kencangnya itu. 

        Sudah terdengar suara tokek, di tengah sunyinya suara jalan raya yang biasanya selalu terdengar whoosh whoosh ramai kendaraan melintas. Tapi, tetap kuteruskan untuk mengetik karena sekarang ayah ibuku kebangun untuk melaksanakan i'tikaf dan setelah itu dilanjutkan untuk sholat tahajjud. Bagaimana denganku? Karena aku belum tidur sama sekali, jadi aku pikir ini bukanlah masa yang tepat untukku berniat sholat tahajjud. (CMIIW)

        Apakah kalian pernah tersadar akan satu hal ini? Hal tersebut ialah kelegaan pikiran dalam menanggung beratnya beban yang dituangkan dalam selembar kertas. Ya, ini berkaitan dengan apa yang kulakukan sekarang. Betul, menulis. Aku tau, aku sebenarnya tidak benar-benar "menulis" karena apa yang kulakukan sekarang adalah mengetik. Lucu rasanya saat "tulisan" seseorang yang dibuat padahal sebenarnya itu adalah ketikan. Mengapa masih disebut tulisan jika memang itu ketikan? Mengapa masih menyebutnya sebagai kegiatan menulis padahal sebenarnya itu merupakan kegiatan mengetik? 

        Semakin malam entah mengapa otak semakin banyak meproduksi pertanyaan-pertanyaan random yang terkadang tidak terpikirkan ketika katakanlah saat kelas. Mengapa di saat kuliah, waktu dosen tanya "Apa ada pertanyaan?", semua sontak menjawab "Tidak, pak/bu." Padahal setelah kita diberikan tugas yang berkaitan dengan materi hari itu, kita masih bingung dan banyak sekali muncul pertanyaan-pertanyaan dalam otak kita. 

        12.57 malam, aku sudah menuangkan sebanyak 379 kata (tidak termasuk kata-kata di paragraf ini). Dalam 20 menit saja, otak sudah bisa menghasilkan kata sebanyak itu. Apalagi dalam satu jam, bisa sampai 1000 kata dalam sekali duduk. Itupun sebenarnya tergantung dengan seberapa cepat otak memunculkan ide-ide baru yang berupa rangkaian kata-kata ini. 

        Setiap manusia pasti memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam membuat suatu tulisan. Tidak, ini tidak ada kaitannya dengan seberapa pintar orang tersebut. Tapi, ini kaitannya dengan seberapa berani dan mau otak dalam mengeluarkan atau menuangkan setiap kata yang ia miliki untuk bisa dihasilkan menjadi suatu karya tulis.

        Mataku sudah mulai meredup, ibarat lampu sudah tinggal 1 watt. Jangan lupa untuk selalu melakukan kegiatan bisnis kamar mandi secara rutin sebelum tidur. Sikat gigi, cuci muka, dsb. 

Oke, jadi buat yang udah baca tulisan random malam ini...

Makasih banyak, pembaca setiaku! G'nite, all!

        

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah rasa kagum, akankah menjadi selamanya?

Versi Terbaik?

Uncertainty Decisions - Theory of Deeper Root