Uncertainty Decisions - Theory of Deeper Root
G'nite All! Ya.. I write this at night cause I begin to greet you all with that expression. I can't sleep rn. It's already 10.25 PM. Tonight, I'd like to tell you about a story of uncertain feelings between like or pretend to have no feelings, even though I know it hurts me as the one who has these feelings. Yet, I have another pov that if I keep on continuing this feeling, I will let it go further and deeper into my heart.
Ibarat kayak akar, kalo udah semakin dalam is menjangkau bawah tanah, maka akan lebih susah untuk dicabut. Memang bisa dicabut, tetapi bekas gurukan tanah yang berlubang akan lebih besar pastinya. Perumpamaan ini sama halnya dengan hati, kalo udah punya rasa dengan seseorang dan ternyata takdir tidak merestui untuk kami saling bersama, maka lebih baik cukup di sini saja. Aku gak mau semakin menyakiti perasaanku tuk ke sekian kalinya.
Aku memang sudah mengaguminya dari lama sekitar 1.095 hari kurang lebih. Meskipun, di tengah-tengah banyaknya jumlah hari tersebut ada banyak rasa datang hanya untuk bersinggah, tetapi tidak untuk berlabuh. Kukira, ialah yang akan menjadi orang yang akan datang dan tidak akan pernah pergi, namun nyatanya prediksiku tidak mencapai target yang mana diartikan bahwa ia yang akan berlabuh selamanya dalam perasaan yang diibaratkan sebagai pelabuhan. Haruskah ku mengakhiri rasa kagumku kepadanya? Rasanya sangat berat untuk saat ini melepaskan begitu saja perasaan yang diibaratkan sebagai akar itu tadi, ia sudah lama tertanam sangat dalam.
Aku tau, keputusan ada padaku. Orang-orang terdekatku hanya memberikan saran yang mana itu tentunya untuk kebaikanku juga ke depannya. Dan... Sebelum mereka berkata demikian, aku sudah memiliki firasat tak enak dengan dia. Bukan, bahkan aku tak pernah tahu menahu apakah dia pernah mendua ataupun tidak bertanggung jawab dalam hubungan sebelumnya. Yang aku tau, hanya seberapa besar rasa kagumku dengan orang ini.
Imajinasi indahku yang membuat seolah-olah itu harus terealisasikan dalam realita kehidupanku. Namun, bagaimana jika Tuhan tidak menakdirkan kami untuk bersama? Senantiasalah berprasangka baik atas jalan yang diberikan-Nya, sekalipun itu memang menyakitkan. Aku hanya membahas perihal asmara, bukan perihal lain. Maka, haruskah ku sekarang juga menentukan untuk memutus rasa ini atau akan aku teruskan walaupun kelak di masa depan rasa sakit yang dirasa akan lebih menyiksa? Pertanyaan "apakah" itu yang senang sekali berputar-putar layaknya spinner. Otakku mengatakan untuk berhenti, namun hati berkata lain. Katakanlah hati atau perasaan itu adalah manusia ia pasti berkata aku rela untuk menghabiskan masa rasa kagumku ini terhadapnya, walaupun kelak memang aku harus menanggung rasa sakit yang amat sangat karena telah terlalu lelah dalam menutupi rasa yang tidak pasti ini.
You know what guys? Saya sudah mengantuk.. Izinkan saya untuk tidur supaya besok bisa beraktivitas dengan semangat dan penuh energi baru. So... Yeoreobunn, jal jayoo!
Comments
Post a Comment