Cinta Lama Meninggalkannya

            Ini bukan kisah romansa antara kedua insan. Tapi ini berkaitan dengan cerita cinta sang penulis dengan impiannya. Katakanlah ia dulu pernah mencintai dengan amat sangat kepada satu universitas ini. Ia sebut sebagai cinta lama. Kan kuceritakan terlebih dahulu bagaimana ia bisa mencintainya begitu besarnya. Cinta lama adalah salah satu universitas terbaik di negeri

            Awal mulanya ketika dulu waktu umur 7 tahun ia mengunjungi universitas itu karena ikut tantenya yang akan melanjutkan S2 di universitas tersebut. Sangat menyenangkan rasanya saat ia menceritakannya padaku tentang kisah cinta pandangan pertamanya dengan universitas itu. Aku yang mendengarkan ceritanya dengan saksama pun membayangkan dan turut hadir dalam momennya. Aku berteman baik dengan penulis sejak kecil hingga sekarang, aku harap aku akan tetap menjadi temannya yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya sampai kapanpun. 

            Penulis yang kukenal ini, jika ia memiliki satu kemauan maka ia sangat berambisi untuk mendapatkannya. Kala itu kami sudah beranjak dewasa, lebih tepatnya menginjak usia 16 tahun atau setara dengan SMA kelas 1. Kami saling berjanji untuk mulai fokus mengejar impian kami. Ia mengikuti berbagai lomba sesuai dengan bidang yang sangat ia impikan, yaitu kedokteran atau yang berkaitan dengan itu anggap saja biologi. Bagaimana dengan kimia? Jujur saja, ia pernah mengatakan kepadaku kalau Kimia adalah pelajaran IPA yang ia paling tidak suka. 

            Banyak sertifikat yang telah ia dapatkan melalui lomba-lomba yang diikutinya. Jika aku bisa mengingat kembali, begitu sangat memimpikannya ia untuk menjadi dokter. Terutama, dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang mana impian itu muncul ketika ia berusia 5 tahun. Di saat anak-anak seusianya ditanya tentang cita-cita, maka rata-rata akan menjawab polisi, tentara, guru, dan dokter tanpa menyebutkan spesialisnya. Sedangkan aku kagum, di usianya ia langsung menjawab dengan spesifik ingin menjadi dokter kandungan. 

            Aku ingat betul, banyak ejekan yang ia terima saat itu. Anak sekecil itu harus bertarung dengan cemooh yang dilabelkan dengan "candaan" dari teman-teman disekitarnya. Ia bercerita padaku tatkala kami sedang makan siang, ia bertanya padaku apakah salah jika ia menjadi dokter dengan spesialis itu. Aku pun menjawab jika menjadi berbeda daripada yang lain mesti siap menerima berbagai pendapat termasuk juga pendapat yang tidak kita suka. 

Kembali menuju zaman SMA...

            "Aku rasa aku terlambat untuk mengejar cita-citaku ini.", katanya pada saat jam kosong pelajaran matematika. Aku mengatakan padanya, "Bagus kamu mulai mengejarnya dari sekarang, meskipun kamu merasa sangat berat untuk menggapainya terlebih lagi memang jurusan yang amat sangat kamu impikan adalah jurusan paling prestigious. Apapun itu hasilnya, aku yakin kalau semua usahamu pasti akan bermanfaat kelak di masa depanmu, Na."

            Pernah ia merasa sangat berat untuk menggapai mimpinya itu, sampai-sampai... Tidak, ini bukan soal mengakhiri hidup. Tidak ada niatan itu sama sekali dalam kamus besar hidupnya. Namun, ini berkaitan dengan keputusannya untuk mengambil jurusan yang berbeda dari apa yang ia impikan. Entah bagaimana ceritanya ia bisa berubah pikiran sedemikian jauhnya. Ia mengambil salah satu jurusan soshum untuk jalur masuk melalui prestasi atau yang dikenal dengan sebutan SNBP. Juga ia tidak memilih universitas yang sangat ia cintai itu. Aku pun sampai geleng-geleng, apa yang sebenarnya anak ini mau. 

            Pada saat pengumuman SNBP, ia mendapatkan warna merah yang artinya kali ini ia mesti coba lagi lewat jalur masuk lain. Maka, ia mulai fokus belajar untuk persiapan jalur berikutnya yaitu SNBT atau jalur masuk melalui tes. Bagaimana denganku? Oh, sama. Akupun tidak lolos jalur itu. Berkali-kali ia mengikuti Try Out, namun hasilnya tidak pernah tembus passing grade untuk jurusan kedokteran. Ia menyiapkan plan B jika suatu hari memang ia tidak ditakdirkan untuk lolos jurusan itu. Mulailah ia konsultasi ke guru BK kami, juga ke orang tuanya sekiranya apa jurusan yang tepat untuknya selain Kedokteran. 

            Tibalah saat pengumuman SNBT, ia sudah pasrah jika ia tidak lolos. Karena ia merasa saat melaksanakan tes beberapa minggu sebelumnya, ia tidak maksimal dalam mengerjakannya. FYI, ia tidak memilih kedokteran di kedua pilihan yang diberikan. Ia memilih jurusan biologi sebagai pilihan pertama dan sastra arab sebagai pilihan kedua, tapi kali ini ia memilih universitas idamannya. 

            Hasil SNBT yang ia dapatkan adalah... "Jangan putus asa dan tetap semangat!". Ia menangis sejadi-jadinya. Katanya, patah hati yang paling menyakitkan yang pernah ia rasakan bukanlah patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan dengan seorang lelaki, namun patah hati yang teramat sangat sakitnya itu karena ditolak oleh universitas impiannya.

Lalu, ia sekarang kuliah di mana? Jurusan apa? Apakah ia bisa move on setelah ditolak universitas impiannya itu?

Nantikan kisah lanjutan mengejar "cinta" sang penulis...

Cinta lama meninggalkannya sampai di sini dulu pembaca setiaku. Sampai jumpa! 

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah rasa kagum, akankah menjadi selamanya?

Versi Terbaik?

Uncertainty Decisions - Theory of Deeper Root